Minggu, 28 Februari 2010

Muted Group Theory

Muted Group Theory
Teori Kelompok Kebisuan (kelompok terpinggirkan)
teori kelompok kelompok merupakan salah satu dari cabang teori kritis, karena ia menitikberatkan pada masalah yang berkaitan dengan kekuasaan dan bagaimana kekuasaan itu digunakan untuk melawan orang - orang. sementara para penganut teori kritis lainnya dapat memisahkan secara jelas antara siapa yang kuat dan memiliki kekuasaan dan siapa yang lemah yang tidak memiliki kekuasaan, dengan berbagai macam cara. sedangkan teori ini lebih memilih untuk memisahkan peta kekuasaan kedalam kekuasaan yang dimiliki lelaki dan perempuan.
teori ini bermula dari premis nya yang mengatakan bahwa struktur bahasa memiliki ikatan secara kultural dan berhubungan dengan kultur yang terbentuk. dan karena lelaki memiliki kekuasaan yang lebiih besar daripada perempuan, maka dari itu, lelaki memiliki pengaruh lebih besar terhadap perkembangan kebahasaan, sehingga menghasilkan struktur bahasa yang bias lelaki, dan lebih memihak kepada kekuasaan lelaki. lelaki menciptakan kata - kata dan makna - makna yang kemudian akan terbentuk secara kultural dalam artian menjadi sebuah kewajaran secara sosial. dari bahasa tersebut, mereka akan mengekspresikan ide - ide mereka. disisi lain perempuan, tertinggal jauh atau ditinggalkan jauh dibelakang, mereka tidak diberi tempat untuk menciptakan makna - makna dan meninggalkannya tanpa makna - makna yang bisa mengekspresikan hal - hal yang unik bagi mereka. nah, praktik inilah yang disebut dengan meninggalkan perempuan atau menempatkan perempuan sebagai kelompok kesunyian, atau kelompok kebisuan.
teori kelompk kebisuan memiliki tiga asumsi dasar, yakni ;

  • Lelaki dan perempuan memiliki cara yang berbeda dalam memaknai dan memandang dunia, hal ini disebabkan karena diantara mereka memiliki persepsi yang berbeda juga dalam memaknai pengalaman - pengalaman yang mereka alami. pengalaman yang berbeda itu merupakan hasil dari perbedaan - perbedaan peran dan tugas yang dimiliki lelaki dan perempuan dalam lingkungan sosial.
  • lelaki menampilkan dan menetapkan kekuasaan yang mereka miliki secara politis, melanggengkan kekuasaan yang mereka miliki dan dengan menindas ide - ide yang muncul dari golongan perempuan dan mencoba mendapatkan penerimaan publik.
  • perempuan harus merubah ide - ide unik mereka, pengalaman - pengalaman mereka dan makna - makna mereka ke dalam sistem bahasa lelaki, jika ingin suara mereka didengar.

ketiga asumsi itu menjadi dasar hipotesisi dari komunikasi perempuan;

  • perempuan memiliki kesulitan yang lebih besar daripada lelaki untuk mengekspresikan dirinya.
  • perempuan memahami apa yang lelaki maksudkan dengan lebih mudah, daripada yang lelaki pahami atas maksud dari para perempuan.
  • perempuan berkomunikasi dengan sesamanya dengan menggunakan media yang tidak diterima oleh kebanyakan pelaku komunikasi dari kalangan lelaki.
  • perempuan tidak begitu puas dengan komunikasi mereka dibandingkan dengan lelaki.
  • perempuan jarang membuat istilah dari kata - kata baru, tapi sewaktu - waktu mereka melakukannya dengan tujuan untuk menciptakan makna - makna khusus dan unik bagi perempuan.

teori ini tidak mengklain bahwa perbedaan - perbedaan itu menyangkut masalah biologis. akan tetapi, teori ini mengklaim bahwa lelaki memiliki resiko kehilangan posisi dominannya jika mereka mendengarkan ide perempuan, memasukan pengalaman - pengalaman mereka ke dalam sistem kebahasaan, dan memperbolehkan perempuan menjadi partner yang setara dalam penggunaan bahasa dan penciptaan bahasa. bahasa merupakan sesuatu tentang kekuasaan, dan lelaki memilikinya.

0 komentar:

Poskan Komentar