Minggu, 28 Februari 2010

gender dan world wide website

the world wide website merupakan sebuah teknologi baru dimana sejauh ini menyediakan adanya konstruksi terhadap informasi, pengorganisasian dan penyebarluasan sebuah informasi. informasi merupakan sebuah bahan mentah yang kemudian akan di organisasikan dan konstruksi sehingga menjadi sebuah pengetahuan baru yang sangat berharga bagi audiens yang tertarik mengenai pengatahuan - pengatahuan tersebut. ini merupakan teknologi yang sangat kuat dalam bidang pengetahuan, bukan hanya sekedar masalah penyimpanan data - data atau hanya sebagai pusat penyimpanan data saja, akan tetapi hubungan antara berbagai dokumen data telah memunculkan cara - cara baru untuk mengorganisasi dan membangun sebuah pengetahuan. anda tidak hanya akan diberikan informasi - informasi yang anda butuhkan saja, akan tetapi secara langsung anda juga akan dihadapkan pula dengan berbagai macam informasi lainnya dari seluruh dunia dalam satu bingkai web yang tengah anda buka mengenai suatu informasi. dalam satu bingkai web ini, mungkin akan diisi puluhan atau bahkan ratusan informasi lainnya yang saling berhubungan atau malah yang sama sekali tidak berhubungan dengan informasi yang sedang anda cari. kondisi tersebut telah memungkinkan setiap orang dapat melakukan komparasi antar data - data yang tersaji. begitu pula hal ini telah memunculkan cara - cara baru dalam membaca sebuah informasi, kini tak dibutuhkan cara - cara konvensional seperti dalam membaca melalui urutan - urutan baku seperti ketika membaca buku. tetapi rader kini bebas memilih urutannya sendiri, mau yang mana yang dibaca, mau yang mana dulu,dll.
para penganut dekonstruksionis, barthes, derida atau wittgenstein, berpendapat bahwa fenomena ini menmiliki kaitan erat dengan eksistensi sebuah buku, perubahan cara nmenyajikan data dan perubahan dalam pembacaan data atau informasi telah memberikan pengaruh pula terhadap bagaimana infromasi - informasi atau data - data itu ditulis. cara - cara menulis secara konvensional dengan struktur yang linear mulai terancam dan secara langsung mengancam eksistensi sebuah buku.
menurut derida, web telah memperkenalkan cara - cara baru dalam menulis, membaca dan mengkonstrulsikan sebuah informasi. dalam hal ini, web dapat dilihat sebagai sebuah teknologi mutakhir yang memproduksi pengetahuan.
technologies of gender
dalam cara yang sama, teknologi gender yang paling mutakhir telah memaksa kita untuk memikirkan kembali kebenaran - kebenaran tentang konstruksi gender dan representasi. dimana sebelumnya konsep gender kerap dikaitkan dengan jenis kelamin, sekarang bisa kita pahami dalam kerangka konstruksi gender dan konsep representasi.
simone de beauvoir pertama kali menganalisa masalah ini dalam seminarnya yang bertajuk "the second sex" (1949), dalam makalahnya ia mengkritisi tentang hierarki struktur gender yang berlaku pada masa itu. menurut dia, "perempuan tidak dilahirkan, melainkan ia dibuat". selanjutnya ia mengajak untuk memikirkan kembali tentang konsep gender, roles, ideologi, nilai - nilai, belief dan kepercayaan. selanjutnya gender tidak hanya difahami sebagai konsep yang begitu saja terbentuk atau begitu saja diterima, akan tetap merupakan konsep yang terbentuk atau dikonstruksi secara sosial dan kultural, bukan yang secara hierarkis tidak dapat diubah.
pada waktu yang bersamaan, kajian gender mengatakan bahwa konstruksi gender merupakan hasil dari berbagai macam teknologi sosial seperti film, dan hasil dari berbagai macam wacana yang telah berkembang dan terlembagakan, epitemologi, serta praktik - praktik kritis yang dilakukan layaknya dalam kegiatan sehari - hari (lauretis, 1987 ; 2). pemahaman tantang perbedaan gender telah mempengaruhi cara orang memahami tentang perilaku - perilaku yang melekat pada masing - masing gender. secara tradisional, maskulinitas selalu dikaitkan dengan sifat - sifat rasional, logis, kuat, teknis, disisi lain feminitas selalu dikaitkan dengan sifat - sifat emosional, intuitif dan irasional. begitu pula perbedan gender selalu memunculkan konsep tentang produktifitas,,ada anggapan bahwa salah satu lebih produktif dibandingkan dengan yang lainnya,,lebih jelas dikenal bahwa pria lebih produktif dari pada perempuan. disisi lain upaya - upaya dekonstruksi terhadap representasi dan wacana - wacana ketidak adilan gender ini telah menimbulkan kekaburan mengenai batas - batas perbedaan gender dan mengharuskan pemetaan kembali mengenai konsep gender ini. aliran feminis baru yang menantang struktur gender klasik yang telah menempatkan posisi perempuan sebagai sosok irasional dan tidak logis, kini telah menjadi sebuah aliran feminis yang terdepan dan memiliki dukungan luas dari para aktivis perjuangan persamaan gender dan membawa tema utama "rasional untuk perempuan". pada waktu yang sama, golongan maskulinitas telah mengambil keputusan untuk memperbolehkan para pria untuk masuk kewilayah domestik yang selama ini kerap dikaitkan sebagai wilayah kaum perempuan. mereka juga mulai memetakan kembali konstruksi - konstruksi gender yang banyak terdapat di dalam website - website, begitu pula dalam video games yang memperlihatkan adanya praktik - praktik ketidakadilan gender. startegi ini merupakan upaya - upaya untuk memetakan kembali konstruksi gender dan merupakan upaya kultural dekonstruksi.
what's in a name
tahukah anda bahwa kosakata "web" secara tradisional sering berkonotasi sebagai aktifitas perempuan seperti menenun, alat tenun atau benang tenun. "web" didefinisikan dalam macquarie dictionary sebagai sesuatu yang dibentuk dari tenunan dan jalinan tenun, jaring - jaring halus dan tipis yang dibuat oleh laba - laba, atau seperti sebuah bagian dari pakaian yang terbentuk dari tenunan - tenunan sehingga menjadi sebuah pakaian yang utuh. meskipun tidak secara langsung berkaitan erat dengan aktifitas perempuan, akan tetapi jika disandingkan dan dibandingkan dengan aktifitas pria seperti menyelam, berlayar, memanjat, maka kosakata menyulam diatas menjadi konotasi dengan aktifitas perempuan.
secara struktural , dominasi kaum pria mulai bisa dirasakan dalam segi linguistik, ini karena adanya kesalahan dalam sistem bahasa, termasuk dominasi metafora - metafora yang digunakan, dan telah secara tersirat menempatkan pria dalam posisi dominan sedangkan perempuan ditempatkan dalam posisi sebagai sosok terbungkam,,tidak mampu bersuara dan tidak memiliki akses berkomunikasi sebagaimana yang dimiliki oleh kaum pria (henley & kramerae, 1991 ; 40-41).
lebih jauh lagi, mennurut penelitian yang dilakukan oleh spender (1993) dan van zoonen (1992), memperlihatkan bahwa posisi perempuan telah dikecualikan dalam sebuah masyarakat informasi, atau kurangnya ketertarikan mereka terhadap kemajuan teknologi secara langsung telah mengkonstruksi pemahaman tentang posisi perempuan dimana mereka tidak memiliki tempat untuk seorang perempuan dan feminitas. frissen (1992) menekankan bahwa kemajuan teknologi informasi tidak dibarengi dengan dialog - dialog mengenai persoalan gender. dia mendasarkan pada penelitian yang telah dilakukan oleh golding & murdock (1986), mereka menemukan bahwa media komunikasi mutakhir secara sengaja telah menduplikasi dan mengabadikan strukur ketidakadilan yang telah ada sebelumnya. pada tahapan ini, bagaimanapu kemajuan teknologi infromasi seperti cyberspace merupakan milik dari keduanya feminim maupun maskulin, dimana keduanya bisa memperlihatkan eksistensi masing - masing dalam era cyberspace ini.
web atau arsip data
tidak seperti sebuah perpustakaan, web memiliki lebih banyak kelebihan, selain sebagai tempat penyimpanan data, dia juga dapat melakukan fungsi - fungsi hiperteks, interteks dan interlinked. kelebihan lainnya adalah masalah kecepatan akses ketika mencari data yang hampir bisa dikatakan instan terutama jika dibandingkan dengan pencarian data di perpustakaan. penyimpanan data di web kin lebih didominasi oleh para pria dan banyak web bermunculan yang hanya diperuntukan untuk para pria. secara singkat dapat dikatakan bahwa web merupakan tempatnya para pria sebaliknya kaum perempuan hampir kehilangan tempatnya didalam dunia cyber ini.
web sebagai media space
kita juga dapat melihat web sebagai ruang media dimana jenis - jenis media seperti audio, visual, audio-visual, interaktif, dll bergabung menjadi satu kedalam sebuah bentuk web. ketika media - media lainnya telah dikuasai pula oleh kaum pria, televis i, film, dll, maka tidak mustahil bahwa web juga mengalami nasib yang sama. dikuasai oleh kepentingan - kepentingan kaum pria.
kesempatan - kesempatan gender dan web
teknologi mutakhir ini berbicara mengenai konstruksi makna dan konstruksi kultural, bukan hanya masalah penggunaannya, akan tetapi masalah pembuatan atau pembentukan sebuah pengetahuan dan kultur tertentu. pengetahuan - pengetahuan itu seharusnya menempatkan sosok perempuan dalam posisi sejajar dengan kaum pria, baik itu dalam hal wilayah "kekuasaan" atau dalam hal akses mendapatkan pengetahuan.
"the web and the internet will continue to remorph gender, and in so doing dissolves gender boundaries as well as dicipline boundaries. in this way the technologies of knowledge in conjuctioan with the new technologies of gender will enable the de - territorialitations of knowledge. it is in this poin that women should seize of opportunities for unless they are there to shape and manage. they might find themselves/ourselves being shaped and managed once again through the new technologies.

0 komentar:

Poskan Komentar